pengetrian-kepemimpinan

Banyak ahli yang telah memberikan pengertian tentang kepemimpinan. Menurut Maxwell, Kepemimpinan adalah pengaruh. Werren Bennis menyatakan bahwa kepemimpinan adalah kapasitas untuk menerjemahkan visi menjadi realita. Sedangkan Stephen Covey menyebut kepemimpinan sebagai sebuah proses mengomunikasikan nilai dan potensi diri kepada orang lain. Dan berbagai pengertian lain yang kurang lebih mencakup seni dan ilmu, kemampuan dan potensi, pengaruh dan menggerakkan untuk mencapai suatu tujuan.

Kepemimpinan tidak hanya melekat karena suatu jabatan saja. Karena sejatinya kepemimpinan adalah fitrah bagi setiap manusia. Maka wajar kita mengenal istilah pemimpin formal dan pemimpin informal. Pemimpin formal adalah pemimpin yang hadir karena adanya amanah jabatan resmi dalam suatu organisasi. Misal ketua kelas, Koordinator Pelaksana sebuah kepanitiaan, Kepala Kantor, dan Presiden suatu negara. Pemimpin formal ini jumlahnya sebatas jabatan formal yang tersedia. Sedangkan pemimpin informal adalah pemimpin yang hadir karena pengakuan dari orang di sekitarnya. Pemimpin ini tidak hadir melalui rapat, kongres, atau muktamar. Pemimpin ini namanya tidak akan tertulis dalam SK pengangkatan atau lembar pelantikan. Tapi pemimpin ini hadir karena peran dan pengaruh yang dapat diberikannya pada sekitar. Jumlahnya dapat tidak terbatas.

Tipe pemimpin informal inilah yang kita harapkan hadir di tengah-tengah mahasiswa. Orang- orang yang walaupun tidak memegang jabatan kepemimpinan namun dapat menghadirkan makna kepeminpinan. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Muhammad muda yang belum diangkat menjadi rasul. Pada saat itu, dilakukan pemugaran atas bangunan ka’bah yang padanya terdapat batu “Hajarul Aswad”. Berbagai pihak terlibat dalam proses pemugaran ini, termasuk Muhammad SAW. Semua kabilah/suku bangsa arab saling bahu membahu menyelesaikan proses pemugaran. Hingga akhirnya, bangunan ka’bah selesai dipugar dan tibalah saat untuk memindahkan kembali hajarul aswad.

 Masing-masing kabilah merasa paling berhak dan berebut ingin memindahkan hajarul aswad yang nerupakan batu bersejarah. Terjadilah perselisihan yang hampir mengakibatkan pertumpahan darah antar kabilah. Saat itu Muhammad SAW mengajukan usul agar siapa saja yang datang paling awal esok adalah orang yang berhak memindahkan hajarul aswad. Semua pemipin kabilah setuju dan tentu masing masing dari mereka berlomba untuk hadir paling awal. Keesokan harinya,  ternyata yang datang paling awal adalah Muhammad SAW maka beliau menjadi orang yang berhak memindahkan hajarul aswad. Kesepakatan telah diambil dan seluruh kabilah harus setuju. Namun tanpa disangka, Muhammad SAW menghamparkan sorbannya dan meletakkan hajarul aswad di atasnya. Kemudian, masing masing pemuka kabilah dipersilakan untuk memegang sudut dan sisi-sisi sorbannya tersebut. Secara bersama-sama mereka memindahkan hajarul aswad mendekati posisinya semula. Setelah itu, Muhammad SAW mengangkat dan meletakkan kembali hajarul aswad pada tempatnya. Dengan demikian, seluruh kabilah turut serta dalam proses pengembalian hajarul aswad.

Luar biasa teladan kepemimpinan yang dicontohkan oleh seorang pemuda yang bahkan bukan seorang pemimpin formal. Beliau bukanlah kepala suku atau pemimpin kabilah. Namun dengan kebijaksanaanya beliau dapat menjadi pemipin informal yang menghadirkan solusi bagi sekitar. Maka, jangan tunggu menjadi pemimpin formal untuk dapat memberi manfaat. Namun sudah selayaknya masing-masing dari kita bersiap.

Ibarat sekawanan angsa yang terbang dalam formasi V. Angsa paling depan memimpin kawanannya. Dia siap pasang badan, angsa pertama yang akan melawan terjangan angin. Namun saat ia mulai kelelahan, maka itu merupakan suatu pertanda bahwa ia akan pindah ke belakang formasi. Di saat itulah, terjadi pergantian kepemimpinan. Angsa lain yang akan mengambil alih posisi terdepan. Hingga saat ia kelelahan, angsa lain lagi yag akan menggantikan. Begitu seterusnya. Maka suatu organisasi sudah selayaknya mengkader anggotanya dengan sebaik-baiknya. Menarik sekaligus mendorong potensi kepemimpinan ini keluar dari diri setiap orang. Sehingga saat roda kepemimpinan itu berputar, sudah ada orang-orang yang siap mengembannya. Sehingga kesempatan bertemu mesra dengan kesiapan untuk memegang peran kepemimpinan.

Dari sisi lain, setiap dari kita pun harus terus melatih jiwa kepemimpinannya. “tapi saya ndak terlahir sebagai seorang pemimpin, terus gimana dong?”. Satu kata yang bisa saya sampaikan, ”Paksakan”. Karena kepemimpinan tidak cuma dilahirkan, namun juga bisa diciptakan. Karena kebaikan, kadang perlu dipaksakan. Tidak perlu menunggu berada pada posisi pimpinan untuk memberi pengaruh. Tapi dalam posisi dan kondisi apapun, sudah sewajibnya kita berupaya menebar pengaruh positif pada sekitar. Karena Setiap kita adalah pemimpin yang akan diminta pertanggungjawabannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s